Senin, 22 Oktober 2012

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM PROSES PEMBELAJARAN

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM PROSES PEMBELAJARAN A. Pendahuluan Kita sering melihat atau merasakan peristiwa kebosanan dalam proses belajar mengajar, ada beberapa sebab yang dilakukan guru saat proses belajar belajar mengajar menjad membosankan antara lain ada empat hal yaitu, pertama ketika mengajar gurur tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkannya sudah dipahamai siswa atau belum. Kedua dlam proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak berfikir kepada siswa. Komunikasi terjadi satu arah yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa bagi siswa menguasai materi materi peajaran lebih penting disbanding dengan mengembangkan kemampuan berfikir. Ketiga guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya. Keempat, guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran dibanding dengan siswa. Keempat hal tersebut merupakan kekeliruan guru dalam mengajar. 1. Guru tidak berusaha untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Guru yang tidak melakukan diagnosis tentang keadaan siswa , maka ia tidak mengetahui apakah siswa sudah paham tentang materi yang akan dijelaskannya. Demikian juga ia tidak mengetahuai apakah siswa sudah membaca buku yang ia baca . jangan-jangan siswa lebih paham dari gurunya tentang materi pelajaran yang akan diajarkanya. 2. Guru tidak mengajak berfikir siswa. Mengajar buakan hanya menyamapaikan materi pelajaran, tetapi melatih kemampuan siswa untuk berfikir, menggunakan strtuktur kognitifnya secara penuh dan terarah. Materi pelajaran mestinya digunakan sebgai alat untuk melatih kemampuan berfikir, bukan sebagai tujuan. Menagajar yang hanya menyampaikan informasi akan membuat siwa kehilangan motivasi dan konsentrasinya. Mengajar adalah mengajk berfikir siswa sehingga melalui kemampuan berfikir akan terbentuk siswa yang cerdas dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. 3. Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik Prose mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh sebab itu apa yang dilakukan oleh seorang guru seharusnya mengarah pada pada pencapaian tujuan. Oleh karena itu dalam setiap proses pembelajaran , guru perlu mendapatkan umpan balik, apakh tujuan yang ingin dicapai suadah dikuasai oleh siswa atau belum. 4. Guru menganggap bahwa ia orang yan paling mampu. Dalam era informasi sekarang ini , setiap orang dapat belajar dari berbagai sumber belajar. Dengan demikian , kalau sekarang ini ada guru yang menganggap dirinya paling pintar, paliong menguasai sesuatu itu sangat keliru. Sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan peran guru. Guru tidak lagi berperan sebgai salah satunya sumber belajar, akan tetapi lebih berperan sebgai pengelola pembelajaran. Dalam posisi semacam ini guru dan siwa bias saling membelajarkan. B. Konsep dasar mengajar 1. Mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran Kata teach atau mengajara berasal dari bahasa inggris kuno yaitu taecan, kata ini berasal dari bahasa jerman kuno taikjan yang berasal dari kata dasar teik, yang berarti memperlihatkan. Kata tersebut juag aditemukan dalam bahasa sansekerta, dic, yang dalam bahasa jerman kuno jerman kuno dikenal dengan deik. Istilah mengajar juag berhubungan dengan token yang berarti tanda atau symbol. Kata token juga berasal dari bahasa jerman kuno, taiknom, yaitu oengetahuan darai taikjan. Dlam bahasa inggris kuno taecan berarti to teach (mengajar). Dengan demikian token dan teach secra historis memiliki keterkaitan. Secara deskriptif mangajar diaratikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu sering dianggap sebgai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini , mentransfer ilmu tidak diartikan dengan memindahkan seperti mentransfer uang, maka jumlah uang yang dimilikinya akan berkurang bahkan hilang setelah ditranfer. Apakah mengajar juga demikian? Tidak bukan? Bahkan mungkin saja ilmmu yang dimiliki guru akan bertambah. Nah, kata mentransfer dalam kontek ini diartikan sebagai menyebarluaskan. Untuk proses mengajar sebagai proses menyampaikan pengetahuan, akan lebh tepat diartikan dengan menanamkan ilmu pengetahuan seperti yang dikemukakan smith(1987) bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan. Sebagai proses menyampaikan atau menananmkan ilmu pengetahuan maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut : a. Proses pengajaran ber orientasi pada guru Dalam kegiatan belajar mengajar , guru memegang peran yang sangat oenting. Guru menentukan seagalanya. Mau diapakan siswa ? apa yangharus dikuasai siswa? Bagai mana cara melihat keberhasilan belajar? Semua tergantung guru. Sehubungan dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru maka ada tiga peran utama yang harus dilakuakan guru yaitu, sebgai perencana, sebagai penyampai informasi, dan guru sebgai evaluator. b. Siswa sebagai objek belajar Konesp mengajara prose menyamapaikan materi pelajaran menmpatkan siswa sebgai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap ebgai organism yang pasif, yang belum memahami apa yang seharusnya dipahami. Sehingga dalam proses belajar mengajar mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. c. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu misalnya terjadi didalam kelas dengan penjadwalan yang ketat. Siswa hanya belajar manakala ada kelas didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang ditentukan , sering proses belajar mengajar terjadi sangat formal. d. Tujuan utama pengajaran adalah penguasan materi pelajaran. Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana kala siswa dapat menguasai materi siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan sekolah. 2. Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan Pandangan lain mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan dengan harapan agara siswa belajar. Dalam konsep ini yang penting adalah belajaranya siswa. Untuk apa siswa menguasai materi yang dikuasainya itu tidak berdampak terhadap perubahan perilaku dan kemampuan siswa. Dengan demikian , yang penting dalam mengajar adalah proses mengubah perilaku. Terdapat beberapa karakteristik dari konseb mengajar sebagai proses mengatur lingkungan itu. a. Mengajar berpusat pada siswa (student centered) Mengajar tidsk ditentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat ditentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik yang dipelajari , bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang menentukan tetapi juga siswa. Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Dengan demikian , peran guru berubah dari sebgai sumber belajar menjadi peran sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak sebgai oaring yang memebantu siswa belajar. Tujuan utama mengajar adalah membelajarkan siswa. Oleh sebab itu criteria keberhasilan proses mengajar tidak diukur dari sejauh mana siswa telah menguasai materi pelajaran, tetapi diukur dari sejauh mana siswa telah melakukan proses belajar. b. Siswa seabai subyek belajar Dalam kontek menagajar sebagai proses mengatur lingkungan, siswa tidak dianggap sebagai organism yang pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi dipanadang sebgai organism yang aktif , yang memiliki potensi untuk berkembang. Mereka adalah individu yang memiliki kemampuan potensial. c. proses pembelajaran berlangsung di mana saja Sesuai dengan karakteristik pembelajaran yang berorientasi pada siswa, maka proses pembelajaran bias terjadi di mana saja. Kelas bukan satu-satunya tempat belajar siswa. Siswa dapat memanfaatkan berbagai tempat belajar sesuai dengan kebutuhan dan sifat materi pelajaran. d. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan Tujuan pembelajaran adalah bukanlah penguasaan matri pelajaran, akan tetapi proses untuk mengubah tingkah lakau siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. oleh karena itulah penguasaan materi pelajaran bukanlah akhir dari proses pengajaran. Akan tetapi hanya hanya sebagai tuuan anatara untuk pembentukan tingkah laku yang lebih luas. Artinya, sejauh mana materi pelajaran yang dikuasai siswa dapat membentuk pola perilakau siswa itu sendiri. Untuk itulah metode dan strategi yang digunakan guru tidak hanya sekedar metode ceramah, tetapi menggunakan berbagai metode. C. Perlunya perubahan paradigm tentang mengajar Pandangan mengajar yang hanaya sebatas menyamapaikan ilmu pengetahuan itu dianggap suadah tidak sesuai lagi dengan keadaan mengapa demikian?ada tiga alas an penting yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigm mengajar. Pertama, siswa bukan orang dewas dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organism yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas perkembanganya dibuthkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan dapat menggiring mereka agara tumbuh dan berkembang secara optimal. Oleh karena itulah, kemjuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya teknoligi informasi yang memungkinkan setiap siswa dapat dengan mudah mendapatkan berbagai informasi, tugas, dan tanggungjawab guru nukan semakin sempit namun justru semakin kompleks. Guru bukan hanya saja dituntut untuk lebih altif mencari informasi yang dibutuhkan akan tetapi ia juaga haurus mamapu menyeleksi berbagai informasi yang dianggap perly dan penting untuk kehidupan mereka. Gru harus bias menjaga berbagai informasi yang dapat menyesatkan siswa. Kedua, ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Maka belajar tidak hanya sekedar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berfikir. Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman barau terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Dewasa ini anggapan manusia sebgai organiasme yang pasif perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti yang dijelaskan dalam aliran behavioristik, telah banyak ditinggalkan orang. Orang lebih percaya, bahwa manusia adalah organism yang memiliki potensi seperti yang dikembangkan oleh alir an kognitif holistic. Potensi itulah yang akan menentukan perilaku manusia. Oleh karena itu proses pendidikan buakn hanya memberikan lagi stimulus. Akan tetapi usah mengembangkan potensi yang dimiliki. Di sini siswa tidak hanya lagi dianggap sebagai objek , tetapi belajar yang harus mencarai dan mengkontrusi pengetahuanya sendiri. pengetahuan itu tidak diberikan, akan tetapi dibangun oleh siswa. Ketiga hal diatas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajara jangan diartikan sebagai proses menyampaikan materi pembelajaran atau memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebgai proses mengatur lingkungan agara siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar